“Kenapa kamu nggak like postinganku? Kita temenan nggak sih?”
“Followers aku naik, tapi kok malah ngerasa makin kosong?”
Kalimat-kalimat seperti itu bukan lagi hal asing saya dengar dari para siswa. Di ruang bimbingan konseling, mereka tidak hanya datang membawa masalah nilai atau pertemanan di kelas, tapi juga keresahan eksistensial yang muncul dari media sosial—ruang virtual yang begitu memengaruhi realitas mereka.
Sebagai guru, saya tidak bisa menutup mata terhadap fenomena ini. Banyak siswa tampak bahagia di Instagram, TikTok, atau Twitter, tapi di ruang kelas atau saat sesi konseling, mereka tampak lelah, kosong, bahkan tertekan. Ini membuat saya bertanya: Apakah mereka benar-benar bahagia, atau hanya sedang berakting bahagia demi audiens dunia maya?
Tekanan untuk Tampil Bahagia
Media sosial telah menjadi panggung besar tempat siswa kita “menampilkan” hidup mereka. Mereka berlomba-lomba terlihat bahagia, produktif, populer. Tapi di balik layar, saya melihat adanya tekanan luar biasa untuk menyusun citra diri, bukan menumbuhkan jati diri.
Kondisi ini seringkali membuat mereka terjebak dalam perbandingan sosial yang tidak sehat—terutama dalam budaya kita yang sedang bergeser dari kolektif ke arah individualistik. Siswa merasa gagal jika tidak seproduktif influencer, atau tidak secerah teman sekelas yang tampaknya “selalu ceria” di story mereka.
Koneksi Emosional yang Rapuh
Dari perspektif psikologi kebahagiaan (Diener, 1984), hubungan sosial memainkan peran penting. Tapi media sosial seringkali menciptakan hubungan yang dangkal: banyak koneksi, sedikit kedekatan. Ini membuat mereka mudah merasa sepi meskipun dikelilingi oleh ratusan "teman" atau ribuan pengikut.
Literasi Digital Emosional adalah Kunci
Sebagai guru, saya percaya bahwa kita perlu membekali siswa bukan hanya dengan literasi digital, tapi juga literasi digital emosional—kemampuan untuk menyadari, memahami, dan mengelola emosi dalam ruang digital. Mereka perlu tahu bahwa tidak semua yang terlihat indah di internet mencerminkan kenyataan. Bahwa validasi tidak harus datang dari like atau views. Bahwa ketulusan dan keterampilan sosial tetap relevan, bahkan di era online.
Menguatkan Identitas di Dunia Hibrida
Saya juga melihat pentingnya membantu siswa memperkuat identitas mereka—baik secara offline maupun online. Mereka butuh ruang untuk menjadi diri sendiri, bukan versi editan yang selalu “baik-baik saja.” Ruang ini bisa dimulai dari kelas, dari percakapan yang jujur, dari guru-guru yang hadir bukan hanya untuk mengajar, tapi juga untuk mendengarkan.
Menjadi Cermin dan Penjaga Ruang Aman
Kita sebagai guru adalah cermin dan sekaligus penjaga ruang aman bagi siswa. Kita bisa membantu mereka membedakan antara bahagia sungguhan dan bahagia demi konten. Kita bisa menuntun mereka untuk membangun koneksi yang lebih mendalam, bukan hanya impresi visual.
Sebab di era sosial media, menjadi bahagia adalah keberanian. Dan membimbing mereka menuju kebahagiaan yang autentik adalah tugas kita—lebih dari sekadar pengajar, tapi sebagai pendamping hidup mereka yang sedang tumbuh. []
